MOVIE: (REVIEW) Mara (2018)

Title: Mara
Genre: horor, thriller, mystery
Actors: Olga Kurylenko, Javier Botet, Craig Conway, Lance E. Nichols, Rosie Fellner, Mackenzie Imsand
Directors: Clive Tonge
Release Date: 06 November 2018

Sleep Paralysis, atau fenomena tidur yang terganggu, mungkin di Indonesia dihubungkan dengan fenomena ketindihan setan, yang biasa terjadi adalah dada tiba-tiba sesak, tubuh enggak bisa bergerak tapi kita masih setengah sadar dan ingin melawan keadaan yang dialami. Setelah terbangun dari pengalaman ini, biasanya jantung berdetak kencang layaknya abis dikejar setan.

Hal inilah yang coba diusung oleh Mara. Film keluaran Moon River Studios ini mengangkat fenomena yang istilahnya tenarnya sleep paralysis ke dalam sebuah atmosfer horor.

Karena mengusung fenomena yang udah sangat dikenal, cerita dari film yang disutradarai oleh Clive Tonge ini mudah untuk dipahami. Mara berkisah tentang seorang psikolog bernama Kate Fuller (Olga Kurylenko) yang ditugaskan untuk memberikan bantuan kepada kepolisian dalam sebuah kasus pembunuhan sadis.

 

Seorang istri ditahan atas dugaan membunuh suaminya sendiri ketika sedang terlelap. Ketika berdialog dengan Helena (Rosie Fellner), Kate akhirnya merekomendasikan kepada pihak kepolisian untuk menjebloskan ibu satu anak ini ke rumah sakit jiwa. Karena bertanggung jawab dalam menyebabkan Helena ditahan di rumah sakit jiwa, Kate dilanda perasaan bersalah karena memisahkan Sophie (Mackenzie Imsand) dengan ibunya.

Belakangan, Kate diganggu oleh fenomena sleep paralysis. Dalam kondisi lumpuh, dia melihat sesosok wanita misterius yang mengintai. Setelah mengalami gangguan tersebut, Kate berniat untuk melakukan penyelidikan sendiri tentang apa yang sebenarnya terjadi.

Setelah mencari informasi, Kate menemukan informasi dari Dougie (Craig Conway) tentang iblis bernama Mara. Kerap mengintai target dalam tidurnya, Mara akan menandai korbannya dengan luka di bagian bawah mata. Malam menjelang, Kate kembali mengalami gangguan yang jauh lebih menyeramkan. Enggak cuma penampakan, iblis Mara tampak lebih jelas dan mulai melakukan kontak fisik. Ketika mengecek matanya, psikolog yang satu ini kaget karena menemukan luka di matanya.

Adegan sleep paralysis yang menjadi kemunculan Mara terasa monoton. Meskipun terjadi di lokasi yang berbeda-beda, intensitas yang stagnan, enggak berhasil memberikan atmosfer horor yang maksimal. Dari awal kemunculan Mara hingga menjelang babak akhir, penonton udah bisa menebak apa yang akan terjadi.(sumber:kincir.com)

 

Baca berita lain:

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial